Loading...
TP Posyandu Provinsi Gorontalo Ajak Pelajar SMA Negeri 1 Tilango Jadi Generasi Sehat Dan Bebas Stunting
2026-09-08
TP Posyandu Provinsi Gorontalo Ajak Pelajar SMA Negeri 1 Tilango Jadi Generasi Sehat dan Bebas Stunting

PEMPROV DPPPA-PMD - Tim Pembina (TP) Posyandu Provinsi Gorontalo terus memperkuat edukasi dan kolaborasi dalam membangun generasi muda yang sehat, berkarakter, dan bebas stunting. Komitmen tersebut diwujudkan melalui kunjungan dan pertemuan Ketua TP Posyandu Provinsi Gorontalo Nani Ismail Mokodongan, Sekretaris TP Posyandu Provinsi Gorontalo dr. Yana Yanti Suleman, SH, MH, MKM bersama Tim Posyandu Provinsi Gorontalo dengan para siswa SMA Negeri 1 Tilango, Kabupaten Gorontalo. Selasa, 08/09/2026

Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas pemahaman generasi muda mengenai pentingnya menjaga kesehatan sejak usia remaja sebagai investasi untuk membentuk generasi Gorontalo yang berkualitas di masa depan.

Dalam pertemuan tersebut, para siswa mendapatkan penguatan mengenai pentingnya pola hidup sehat, pemenuhan gizi seimbang, aktivitas fisik, serta kepedulian terhadap berbagai persoalan kesehatan yang dapat memengaruhi kualitas generasi muda.

Kegiatan juga mengangkat semangat “Aksi Bersama Remaja Berkarakter, Gorontalo Bebas Stunting” dengan pesan “Sehat Hari Ini, Generasi Hebat Esok Nanti.” Pesan ini menekankan bahwa pencegahan stunting tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah dan tenaga kesehatan, tetapi membutuhkan keterlibatan seluruh masyarakat, termasuk generasi muda.

Ketua TP Posyandu Provinsi Gorontalo, Nani Ismail Mokodongan, mendorong para pelajar untuk menjadi agen perubahan di lingkungan sekolah, keluarga, maupun masyarakat. Menurutnya, remaja memiliki posisi strategis dalam membangun kesadaran tentang kesehatan dan mempersiapkan diri menjadi generasi yang sehat serta produktif.

“Anak-anak muda adalah generasi penerus Gorontalo. Karena itu, sejak sekarang harus dibangun kesadaran untuk hidup sehat, menjaga pola makan, aktif bergerak, serta memiliki karakter yang kuat. Generasi yang sehat hari ini adalah modal bagi Gorontalo yang lebih maju di masa depan,” ujar Nani.

Ia juga menekankan pentingnya keterlibatan remaja dalam mendukung gerakan pencegahan stunting. Edukasi sejak usia sekolah dinilai penting karena pencegahan stunting harus dilakukan secara berkelanjutan dan dimulai jauh sebelum seseorang memasuki usia berkeluarga.

Sementara itu, Sekretaris TP Posyandu Provinsi Gorontalo yang juga Kepala Dinas PPPA-PMD Provinsi Gorontalo, dr. Yana Yanti Suleman, SH, MH, MKM, menegaskan bahwa upaya membangun generasi sehat harus berjalan beriringan dengan penguatan perlindungan perempuan dan anak dari berbagai bentuk kekerasan, diskriminasi, dan eksploitasi.

“Anak-anak dan perempuan harus tumbuh dan hidup dalam lingkungan yang aman, nyaman, dan bebas dari kekerasan. Karena itu, kepedulian terhadap perlindungan perempuan dan anak harus menjadi tanggung jawab kita bersama, bukan hanya pemerintah, tetapi juga keluarga, sekolah, masyarakat, dan termasuk para remaja sendiri,” ujar Yana.

Menurutnya, lingkungan sekolah memiliki peran penting dalam menciptakan ruang yang aman bagi anak. Para siswa perlu dibekali keberanian untuk mengenali, mencegah, dan melaporkan tindakan kekerasan, termasuk perundungan (bullying), kekerasan seksual, kekerasan fisik maupun verbal, serta berbagai bentuk kekerasan berbasis teknologi dan media sosial.

“Kami ingin para remaja tidak hanya sehat secara fisik, tetapi juga memiliki karakter, kepedulian, dan keberanian untuk saling melindungi. Jika melihat atau mengalami kekerasan, jangan diam. Sampaikan kepada guru, orang tua, atau pihak yang dapat memberikan perlindungan dan pendampingan,” tegasnya.

Dalam kesempatan tersebut, Kepala Dinas PPPA-PMD Provinsi Gorontalo yang juga Sekretaris TP Posyandu Provinsi Gorontalo, dr. Yana Yanti Suleman, SH, MH, MKM, tidak hanya memberikan edukasi, tetapi juga melakukan wawancara dan dialog langsung dengan sejumlah siswa SMA Negeri 1 Tilango.

Dialog tersebut secara khusus menggali pemahaman dan pengalaman para pelajar terkait isu kekerasan seksual, perundungan (bullying), serta pernikahan pada usia anak. Para siswa diberikan kesempatan untuk menyampaikan pandangan, pengetahuan, maupun berbagai persoalan yang mereka temui di lingkungan pergaulan dan sekolah.

Menurut Yana, dialog langsung dengan anak dan remaja menjadi bagian penting dalam membangun sistem perlindungan anak yang responsif. Pemerintah perlu mendengarkan suara anak agar kebijakan dan program perlindungan yang dilakukan benar-benar sesuai dengan kebutuhan mereka.

“Kami ingin mendengar langsung dari anak-anak. Apa yang mereka ketahui, apa yang mereka lihat, dan bagaimana mereka memahami persoalan kekerasan seksual maupun pernikahan dini. Dari dialog seperti ini, kita bisa mengetahui sejauh mana pemahaman mereka sekaligus memberikan penguatan agar mereka mampu melindungi diri dan teman-temannya,” ujar Yana.

Ia menjelaskan bahwa kekerasan seksual dan pernikahan dini memiliki dampak yang serius terhadap masa depan anak, baik terhadap pendidikan, kesehatan, perkembangan psikologis, maupun kesempatan mereka untuk tumbuh dan berkembang secara optimal.

Karena itu, Yana mengajak para siswa untuk berani mengatakan “tidak” terhadap segala bentuk kekerasan, tidak mudah terpengaruh oleh lingkungan maupun informasi yang salah, serta segera mencari bantuan apabila mengalami atau mengetahui adanya tindakan kekerasan terhadap anak.

“Kalau ada yang mengalami kekerasan, jangan takut dan jangan merasa sendiri. Ceritakan kepada orang yang dipercaya, seperti orang tua, guru, atau pihak yang dapat memberikan perlindungan. Kita harus membangun budaya saling menjaga dan saling melindungi,” tegasnya.

Terkait pernikahan dini, Yana mengingatkan para pelajar untuk memprioritaskan pendidikan dan mempersiapkan masa depan. Menurutnya, masa remaja merupakan fase penting untuk membangun karakter, meningkatkan kapasitas diri, mengejar cita-cita, dan mempersiapkan kehidupan yang lebih baik.

“Masa depan kalian masih panjang. Kejar pendidikan, bangun cita-cita, dan persiapkan diri sebaik mungkin. Jangan sampai keputusan yang diambil terlalu dini justru menghambat kesempatan untuk meraih masa depan,” pesannya kepada para siswa.

Dialog tersebut sekaligus menjadi bentuk nyata komitmen TP Posyandu Provinsi Gorontalo dan Dinas PPPA-PMD Provinsi Gorontalo dalam menempatkan anak sebagai subjek pembangunan, dengan mendengar suara, kebutuhan, dan aspirasi anak secara langsung.

Melalui pendekatan edukatif dan dialogis tersebut, diharapkan para pelajar SMA Negeri 1 Tilango dapat menjadi remaja yang sehat, berkarakter, berani melindungi diri, serta mampu menjadi agen perubahan dalam menciptakan lingkungan sekolah dan masyarakat yang aman dan ramah anak.

Pertemuan tersebut berlangsung dalam suasana interaktif. Para siswa diberikan ruang untuk berdiskusi dan menyampaikan pandangan terkait kesehatan remaja serta tantangan yang mereka hadapi di lingkungan sekolah dan masyarakat.

Melalui kegiatan ini, TP Posyandu Provinsi Gorontalo berharap para pelajar dapat menjadi “Remaja Sehat Gorontalo Maju” yang tidak hanya memiliki pengetahuan dan kesadaran tentang kesehatan, tetapi juga mampu menjadi contoh dan penggerak pola hidup sehat di lingkungan masing-masing.

(PPID PPPA-PMD PROVINSI GORONTALO)

Komentar
Chat WhatsApp Museum