Dialog tersebut secara khusus menggali pemahaman dan pengalaman para pelajar terkait isu kekerasan seksual, perundungan (bullying), serta pernikahan pada usia anak. Para siswa diberikan kesempatan untuk menyampaikan pandangan, pengetahuan, maupun berbagai persoalan yang mereka temui di lingkungan pergaulan dan sekolah.
Menurut Yana, dialog langsung dengan anak dan remaja menjadi bagian penting dalam membangun sistem perlindungan anak yang responsif. Pemerintah perlu mendengarkan suara anak agar kebijakan dan program perlindungan yang dilakukan benar-benar sesuai dengan kebutuhan mereka.
“Kami ingin mendengar langsung dari anak-anak. Apa yang mereka ketahui, apa yang mereka lihat, dan bagaimana mereka memahami persoalan kekerasan seksual maupun pernikahan dini. Dari dialog seperti ini, kita bisa mengetahui sejauh mana pemahaman mereka sekaligus memberikan penguatan agar mereka mampu melindungi diri dan teman-temannya,” ujar Yana.
Ia menjelaskan bahwa kekerasan seksual dan pernikahan dini memiliki dampak yang serius terhadap masa depan anak, baik terhadap pendidikan, kesehatan, perkembangan psikologis, maupun kesempatan mereka untuk tumbuh dan berkembang secara optimal.
Karena itu, Yana mengajak para siswa untuk berani mengatakan “tidak” terhadap segala bentuk kekerasan, tidak mudah terpengaruh oleh lingkungan maupun informasi yang salah, serta segera mencari bantuan apabila mengalami atau mengetahui adanya tindakan kekerasan terhadap anak.
“Kalau ada yang mengalami kekerasan, jangan takut dan jangan merasa sendiri. Ceritakan kepada orang yang dipercaya, seperti orang tua, guru, atau pihak yang dapat memberikan perlindungan. Kita harus membangun budaya saling menjaga dan saling melindungi,” tegasnya.
Terkait pernikahan dini, Yana mengingatkan para pelajar untuk memprioritaskan pendidikan dan mempersiapkan masa depan. Menurutnya, masa remaja merupakan fase penting untuk membangun karakter, meningkatkan kapasitas diri, mengejar cita-cita, dan mempersiapkan kehidupan yang lebih baik.
“Masa depan kalian masih panjang. Kejar pendidikan, bangun cita-cita, dan persiapkan diri sebaik mungkin. Jangan sampai keputusan yang diambil terlalu dini justru menghambat kesempatan untuk meraih masa depan,” pesannya kepada para siswa.
Dialog tersebut sekaligus menjadi bentuk nyata komitmen TP Posyandu Provinsi Gorontalo dan Dinas PPPA-PMD Provinsi Gorontalo dalam menempatkan anak sebagai subjek pembangunan, dengan mendengar suara, kebutuhan, dan aspirasi anak secara langsung.
Melalui pendekatan edukatif dan dialogis tersebut, diharapkan para pelajar SMA Negeri 1 Tilango dapat menjadi remaja yang sehat, berkarakter, berani melindungi diri, serta mampu menjadi agen perubahan dalam menciptakan lingkungan sekolah dan masyarakat yang aman dan ramah anak.
Pertemuan tersebut berlangsung dalam suasana interaktif. Para siswa diberikan ruang untuk berdiskusi dan menyampaikan pandangan terkait kesehatan remaja serta tantangan yang mereka hadapi di lingkungan sekolah dan masyarakat.
Melalui kegiatan ini, TP Posyandu Provinsi Gorontalo berharap para pelajar dapat menjadi “Remaja Sehat Gorontalo Maju” yang tidak hanya memiliki pengetahuan dan kesadaran tentang kesehatan, tetapi juga mampu menjadi contoh dan penggerak pola hidup sehat di lingkungan masing-masing.
(PPID PPPA-PMD PROVINSI GORONTALO)
Komentar & Diskusi
0 tanggapanSampaikan tanggapan atau pertanyaan resmi terkait publikasi ini.
Belum ada komentar pada konten ini.
Jadilah yang pertama untuk memberikan tanggapan atau pertanyaan resmi melalui formulir di bawah ini.
Tulis Komentar
Semua komentar akan melewati tahap moderasi operator resmi sebelum ditampilkan.